Monday, July 7, 2014

Arsitektur Hijau dengan Gotongroyong









Adi Purnomo: Arsitektur Hijau dengan Gotongroyong





Apa skala makro dalam Green Architecture? Bagaimana visi Mamo?
Rangkuman Kuliah Tamu dan Workshop Arsitektur Nusantara Kontemporer #1
di Universitas Brawijaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim, April 2011,
Malang dengan narasumber Adi Purnomo; moderator: Galih W. Pangarsa.
Green bukan hanya “menghijaukan” bangunan individual, tetapi juga
berpotensi menjadi gerakan perbaikan bersama seluruh warga kita, bahkan
warga negeri. Itulah “Gotongroyong” yang merupakan jiwa kehidupan
bersama Nusantara yang perlu diwujudkan di masa kontemporer, atau di
masa kini dan yang akan datang.

Mamo ternyata bukan saja perancang arsitektur yang matang. Sebagai
peneliti ia juga cukup tekun. Hampir seluruh desainnya adalah hasil dari
pengamatan yang tajam dan riset pribadi yang seksama. Juga kelincahan
intelektual menguraikan fenomena ke dalam aspek-aspek desain, kecerdikan
menyimpulkan uraian itu menjadi desain yang inovatif.

Berbakat atau tidak seorang arsitek, akan tampak dari
tumbuh-berkembangnya intuisi. Jika bakatnya besar, ia mengambil
keputusan-keputusan pengamatan, penguraian, pemrograman, dan
penyimpulannya dalam desain dengan tepat –bahkan dengan indah. Yang
terutama dari fungsi intuisi adalah dalam pengambilan keputusan, untuk
mengurai atau menyimpulkan sesuatu.

Yang mungkin khas dari Mamo –setidaknya yang saat ini dapat diamati
dari prosesnya mendesain– ialah bahwa ia antara lain memandang sebuah
projek dari masalah-masalah mendasarnya atau konteks yang besar:
geografi, klimatologi, hidrologi, ekonomi, pertanian, dan sebagainya.
Juga, sumbang-sih projek itu bagi lingkungan.

Acara ini merupakan salah satu seri dari Kuliah tamu dan Workshop
Arsitektur Nusantara dengan narasumber arsitek-arsitek terbaik di
Indonesia antara lain, Ridwan Kamil, Mamo, Eko Prawoto, Popo Danes,
Andra Matin, Yori Antar, Budi Pradono, Ary Indra, Paulus Mintarga,
Yusing , dll







No comments:

Post a Comment